KAJIAN BUDAYA LOKAL BAHASA NGAPAK DALAM FILM KARYA PELAJAR DI FESTIVAL FILM PELAJAR PURBALINGGA

Authors

  • Abdul Wachid Bambang Suharto Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
  • Aufannuha Ihsani Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto
  • Teguh Trianton Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

DOI:

https://doi.org/10.62107/mab.v20i1.1138

Keywords:

budaya lokal; Festival Film Pelajar Purbalingga; bahasa ngapak

Abstract

Penelitian ini berusaha untuk mengungkapkan tentang kajian budaya lokal bahasa ngapak dalam film karya pelajar di Festival Film Purbalingga, serta mengungkapkan nilai-nilai budaya dalam bahasa ngapak yang dikonstruksi dalam narasi visual film karya pelajar di Festival Film Purbalingga. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa representasi bahasa ngapak dalam film fiksi pelajar yang diputar di Festival Film Pelajar Purbalingga (FFP) memperlihatkan kerja kultural yang tidak sederhana: pelajar bukan hanya “merekam” budaya yang ada, tetapi memilih, menata, dan mengarahkan unsur‑unsurnya agar berfungsi sebagai jantung dramatik. Literatur budaya Banyumas menegaskan bahwa identitas Banyumasan menubuh pada bahasa ngapak, kuliner, relasi keseharian, serta etos peseduluran; elemen‑elemen itu memang paling kuat terasa pada skala domestik dan komunal yang kecil. Kedekatan visual (proximity) berfungsi sebagai taktik otentifikasi. Nilai-nilai budaya lokal dalam bahasa ngapak yang dikonstruksi dalam narasi visual film karya pelajar di Festival Film Purbalingga. Secara konseptual, pembacaan nilai bertumpu pada tiga landasan. Pertama, konsepsi bahasa ngapak dalam budaya Banyumas sebagai himpunan praktik dan etos yang menubuh dalam bahasa, kuliner, ruang komunal, dan jejaring peseduluran—alih-alih berhenti pada ritual besar. Poros pertama memperlihatkan nilai relasional yang bekerja di ruang domestik dan komunal: peseduluran, unggah-ungguh/tepa selira, dan ekonomi moral. Kedua, bahasa yang muncul mewujud dalam objek, gestur, dan ritme suara sebagai petunjuk nilai—karena film bekerja lewat pengalaman inderawi, bukan ceramah. Ketiga, konteks ekosistem FFP—layar tanjleb, kelas, komunitas—yang membingkai bahasa dapat diproduksi, dibaca, dan dinegosiasi dalam forum warga. Poros ketiga merangkum nilai perawatan (care), literasi kultural di era digital, serta ruang budaya sebagai mediator nilai.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Remotivi. 2022. “Sinema dan Akar Rumput: Perjalanan Festival Film Purbalingga”. Diakses 5 Juni 2025 dari https://www.remotivi.or.id/analisis/645/sinema-dan-akar-rumput-perjalanan-festival-film-purbalingga

Wachid, A. (2025, 19 Juni). Menonton Seperti Membaca: Strategi Membaca Film di Kelas Bahasa. Tatkala.co. Diakses dari https://tatkala.co/2025/06/19/menonton-seperti-membaca-strategi-membaca-film-di-kelas-bahasa/

Wachid, A. (2025, 20 Juni). Film Pelajar dan Literasi Budaya: Studi Kasus Festival Film Pelajar Purbalingga. Edukator.id. Diakses dari https://edukator.id/artikel/film-pelajar-dan-literasi-budaya-studi-kasus-festival-film-pelajar-purbalingga

Wachid, A. (2025, 22 Juni). Menonton Indonesia dari layar lebar. NU Online. Diakses dari https://www.nu.or.id/opini/menonton-indonesia-dari-layar-lebar-jK6HP

Wachid, A. (2025, 9 Juli). Menyaring Makna, Bukan Sekadar Memotong Gambar: Menata Ulang Sensor Film Kita. Arina.id. Diakses dari https://www.arina.id/perspektif/ar-rmyxx/menyaring-makna--bukan-sekadar-memotong-gambar--menata-ulang-sensor-film-kita

Wachid, A. (2025, 18 Juli). Membudayakan Menonton Sesuai Usia: Dari Sensor Ke Literasi Kultural. Arina.id. Diakses dari https://www.arina.id/perspektif/ar-rqlhl/membudayakan-menonton-sesuai-usia--dari-sensor-ke-literasi-kultural

Wachid, A. (2025, 20 Juli). “Menonton Indonesia Dari Kursi Plastik: Catatan Dari Kebangkitan Film Daerah”. Arina.id. Diakses dari https://www.arina.id/perspektif/ar-oekqv/menonton-indonesia-dari-kursi-plastik--catatan-dari-kebangkitan-film-daerah

Wachid, A. (2025, 8 Agustus). Estetika Lokal dan Politik Representasi: Membaca Film Pelajar Sebagai Kritik Sosial. Buruan.co. Diakses dari https://www.buruan.co/estetika-lokal-dan-politik-representasi-membaca-film-pelajar-sebagai-kritik-sosial/

Wachid, A. (2025, 13 Agustus). “Kelas Sebagai Ruang Produksi Budaya: Membangun Ekosistem Film dan Sastra di Sekolah”. Maarifnujateng.or.id. Diakses dari https://maarifnujateng.or.id/2025/08/kelas-sebagai-ruang-produksi-budaya-membangun-ekosistem-film-dan-sastra-di-sekolah/

Wawancara

Leksono, Bowo. Diwawancarai oleh Aufannuha Ihsani, 15 Agustus 2025. Kantor Komunitas CLC Purbalingga.

Film

Abdulah, B. H. (Sutradara). (2020). Daring [Film]. SMA Negeri Kejobong, Purbalingga.

Andini, O. N. (Sutradara). (2023). Pedangan [Film]. Hika Production, SMK HKTI 2 Purwareja Klampok, Banjarnegara.

Maulana, L. (Sutradara). (2022). Sepuh [Film]. SWBB Kabupaten Purbalingga.

Meysaputri, R. D. (Sutradara). (2024). Murni [Film]. Hika Production, SMK HKTI 2 Purwareja Klampok, Banjarnegara.

Pratiwi, Y. I. (Sutradara). (2020). Lanang [Film]. Sinematosaka SMAN 1 Karangkobar, Banjarnegara.

Published

2026-06-29

How to Cite

Wachid Bambang Suharto, A., Ihsani, A., & Trianton, T. (2026). KAJIAN BUDAYA LOKAL BAHASA NGAPAK DALAM FILM KARYA PELAJAR DI FESTIVAL FILM PELAJAR PURBALINGGA. MABASAN , 20(1), 93-122. https://doi.org/10.62107/mab.v20i1.1138
Abstract viewed = 99 times