Menggali Nilai-Nilai Budaya dalam Peribahasa Etnis untuk Materi Pelajaran Muatan Lokal Bahasa dan Sastra Daerah dalam Pembentukan Wawasan Keindonesiaan: Perspektif Antropolinguistik

Authors

  • Mardi Nugroho Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

DOI:

https://doi.org/10.62107/mab.v2i2.136

Keywords:

adaptasi linguistik, segmen sosial

Abstract

Pada era reformasi ini, selain berbagai bencana dan persoalan-persoalan lain, bangsa Indonesia menghadapi ujian-ujian berat yang berkaitan dengan sentimen primordial. Ujian-ujian itu misalnya ada daerah yang ingin lepas dari NKRI, daerah yang ingin lepas dari induknya menjadi provinsi atau kabupaten baru, dan pemaksaan agar daerahnya dipimpin oleh figur-figur dari kelompok etniknya. Bisa dikatakan bahwa keindonesiaan yang terbentuk belum sepenuhnya utuh dan belum kokoh. Oleh karena itu, perlu diupayakan terbentuknya wawasan keindonesiaan pada segenap komponen NKRI yang diharapkan akan memperkokoh keindonesiaan kita.Berbagai buku muatan lokal sudah memanfaatkan hasil penelitian tentang peribahasa dalam suatu etnik, misalnya buku Peribahasa Gorontalo: Rujukan Mata Pelajaran Muatan Lokal karya Mansur Pateda dengan Yennie P. Pulubuhu, namun belum menganalisis aspek kebudayaannya. Ada penelitian ungkapan dalam etnik lain, misalnya penelitian Fatimah Djajasudarma dkk. berjudul Nilai Budaya dalam Ungkapan dan Peribahasa Sunda.  Namun, penelitian-penelitian seperti itu masih terlalu sedikit. Memang, kajian antropolinguistik (etnolinguistik atau antropologi linguistik) belum populer dan belum banyak berkembang di Indonesia, padahal Indonesia adalah “surga” bagi kajian antropolinguistik dengan beratus-ratus etnik di dalamnya.Dalam salah satu subtema seminar “Muatan Lokal Bahasa dan Sastra Daerah dalam Pembentukan Wawasan Keindonesiaan”, makalah ini menyarankan untuk menggali nilai-nilai budaya dalam peribahasa etnik-etnik yang ada di Indonesia dalam perspektif antropolinguistik. Selain itu, juga akan dipaparkan metode yang dapat digunakan dan beberapa contoh kajian yang telah dilakukan mengenai peribahasa etnis yang dapat dimanfaatkan untuk tema ini.Bagi peserta didik, peribahasa dalam etniknya sendiri maupun dalam etnik-etnik lain di sekitarnya sangat relevan diajarkan dalam pelajaran muatan lokal bahasa dan sastra daerah. Dari peribahasa yang ada itu digali nilai-nilai budayanya, dipilih mana yang dapat diunakan untuk membangun wawasan keindonesiaan, mana yang perlu diterengjelasakan dan diambil langkah antisipasi agar tidak mendorong konflik, seperti terhadap ungkapan dalam bahasa Madura “Atembheng poteh tolang bi’ poteh mata, anggo’a poteya telang” ‘Daripada putih tulang dan putih mata lebih baik putih tulang’, karena ungkapan itu disinyalir dapat memicu konflik.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Adianto, M. Rus. “Memahami Potensi Konflik dan Perdamaian dalam Budaya Dayak dan Madura Melalui Bahan-Bahan Tradisional” dalam Jurnal ATL No. 8 Vol 7, Desember 2002.

Ahimsa-Putra, H. Shri. “Etnolinguistik: Beberapa Bentuk Kajian” dalam Widyaparwa: Majalah Ilmiah Bahasa dan Sastra. Oktober 1997.

Alfian, Magdalia. “Berpikir Positif dlm Budaya Minang” dalam PaEni, Mukhlis dan Pudentia MPSS. 2005. Bunga Rampai Budaya Berfikir Positif Suku-Suku Bangsa. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata bekerja sama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).

Crystal, David. 1992. A Dictionary of Linguistics and Phonetics. New York: Blackwell Publishers.

Duranti, Alessandro. 2000. Linguistic Anthropology. Cambridge: Cambridge University Press.

Fernandes, Inyo Yos “Berfikir Positif Orang Flores” dalam PaEni, Mukhlis dan Pudentia MPSS. 2005. Bunga Rampai Budaya Berfikir Positif Suku-Suku Bangsa. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata bekerja sama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL)).

Imron, D. Zawawi. “Kearifan dari sastra lisan madura” dalam PaEni, Mukhlis dan Pudentia MPSS. 2005. Bunga Rampai Budaya Berfikir Positif Suku-Suku Bangsa. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata bekerja sama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).

Kontjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

________. 1990 Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: Graedia Pustaka Utama.

Mahsun. “Bahasa Daerah sebagai Sarana Peningkatan Pemahaman Kondisi Kebinekaan dalam Ketunggalikaan Masyarakat Indonesia: ke Arah Pemikiran dalam Mereposisi Fungsi Bahasa Daerah” dalam Alwi, Hasan dan Dendy Sugono (Ed.). 2000. Politik Bahasa: Risalah Seminar Plitik Bahasa. Jakarta: Pusat Bahasa.

Marzali, Amri. 2007. Antropologi dan Pembangunan Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Group.

Moleong, Lexi J. 1990. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Oktavianus. “Nilai Budaya dalam Ungkapan Minangkabau: Sebuah Kajian dari Perspektif Antropolinguistik” dalam Linguistik Indonesia: Jurnal Ilmiah Masyarakat Linguistik Indonesia. Februari 2006.

Sapawi, M. dkk. 1984. Ungkapan Tradisional sebagai Sumber Informasi Kebudayaan Daerah Sumatera Selatan. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sibarani, Robert. 2004. Antropolinguistik: Antropologi Linguistik, Linguistik Antropologi. Medan: Poda.

________. “Berfikir Positif dalam Masyarakat Batak Toba” dalam PaEni, Mukhlis dan Pudentia MPSS. 2005. Bunga Rampai Budaya Berfikir Positif Suku-Suku Bangsa. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata bekerja sama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).

Sumarsono. “Bahasa Daerah sebagai Muatan Lokal: Ihwal Materi dan Metode” dalam Linguistik Indonesia: Jurnal Ilmiah Masyarakat Linguistik Indonesia. Juni dan Desember 1997.

Sutarto, Ayu. 2004. Menjinakkan Globalisasi: tentang Peran Strategis Produk-Produk Budaya Lokal. Jember: Kelompok Peduli Budaya dan Wisata Daerah Jawa Timur (Kompyawisda).

Thomas, Linda dan Shan Wareing. 2007. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Published

2019-01-18

How to Cite

Nugroho, M. (2019). Menggali Nilai-Nilai Budaya dalam Peribahasa Etnis untuk Materi Pelajaran Muatan Lokal Bahasa dan Sastra Daerah dalam Pembentukan Wawasan Keindonesiaan: Perspektif Antropolinguistik. MABASAN , 2(2), 89-108. https://doi.org/10.62107/mab.v2i2.136

Issue

Section

Articles
Abstract viewed = 1940 times