Identitas Perempuan yang Terbelenggu dalam Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer: Subaltern dalam Konstruksi Sosial Masyarakat Tradisi
DOI:
https://doi.org/10.62107/mab.v5i2.212Keywords:
nilai budaya, Sasak, Kemidi RudatAbstract
Peran perempuan yang selalu tersubordinasikan dan termajinalisasikan telah menjadi isu utama bagi tiap karya sastra atau novel yang muncul di Indonesia, mulai dari novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli hingga pada novel Saman karya Ayu Utami. Isu tersebut lahir akibat realitas masyarakat tradisi di Indonesia terutama yang berkaitan dengan pengaruh amat kental dari sistem pemerintahan masa kolonial Belanda. Pulau Jawa termasuk pulau yang menjadi kawasan pusat pemerintahan kolonial khususnya di kawasan Jawa Tengah. Novel yang menarik perhatian pembaca adalah novel-novel Pramoedya Ananta Toer dikarenakan novel-novelnya dianggap sebagai bukti sejarah Indonesia sejak zaman penjajahan hinggan zaman kemerdekaan. Salah satunya adalah novel Gadis Pantai yang pertama kali diterbitkan tahun 2003, tetapi sebelumnya telah beredar sejak tahun 1963. Isinya berisi tentang perwajahan perempuan Jawa yang terbelenggu oleh budaya dan tradisi bangsawan Jawa atas dasar pengaruh kolonial. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian novel Gadis Pantai adalah pengaruh kolonial terhadap feodalisme jawa bagi perempuan, relasi penguasa antara sang Bendoro-Mas Nganten (Gadis Pantai), dan keterbatasan ruang aktivitas perempuan yang menjadi kaum perempuan subaltern. Dengan menggunakan teori postkolonial, yakni subaltern yang diusung oleh Gayatri Spivak (1988) maka dapat disimpulkan bahwa peran perempuan hanya ditentukan oleh ideologi priyayi atau keluarga yang menginginkan status sosial anak perempuannya lebih tinggi dari orang tuanya.Downloads
References
Budianta, Melanie. 2005. “Perempuan, Seni Tradisi, dan Subaltern: Pergulatan di Tengah-tengah Lalu-lintas Global-Lokal” dalam Hayat & Surur (Ed). Perempuan Multikultural: Negoisasi dan Representasi. Jakarta: Desantara
Castle, Gregory. 2007. The Blackwell Guide to Literary Theory. Australia: Blackwell Publishing
Faruk. 2007. Belenggu Pasca-kolonial: Hegemoni & Resistensi dalam Sastra Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Foucault, Michel. 2008. Ingin Tahu Sejarah Seksualitas (Terjemahan dari La Volonté de Savoir: Histoire de la Sexualité). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Geertz, Clifford. 1989. Abangan, Santri Priyayi dalam Masyarakat Jawa (terjemahan dari The Religion of Java). Jakarta:Pustaka Jaya.
Hellwig, Tineke. 2003. In The Shadow of Change: Citra Perempuan dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Desantara.
Keeler, Ward. 2008. “Durga Umayi dan Dilema Postkolonial” dalam Keith Foulcher & Tony Day (Ed). Sastra Indonesia Modern: Kritik Postkolonial Edisi Revisi Clearing Space. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
T.Minh-Ha, Trinh. 1995. “Writing Postcoloniality and Feminism” dalam Bill Ashcroft, Gareth Griffiths and Helen Tiffin (Ed). The Postcolonial Studies Reader. London: Routledge
Toer, Pramoedya Ananta. 2009. Gadis Pantai. Jakarta: Lentera Dipantara
Published
How to Cite
Issue
Section
- Author grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work’s authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal’s published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.
- Every accepted manuscript should be accompanied by "Copyright Transfer Agreement"prior to the article publication.




