MABASAN
https://mabasan.kemendikdasmen.go.id/index.php/MABASAN
<div id="group"> <div id="group"> <div id="group"> <div id="group"> <div id="group"> <div id="group"> <div id="group"> <div id="group"> <div id="group"> <div id="group"> <table class="table" border="0"> <tbody> <tr> <td style="text-align: justify;"> <div><sup><img src="http://mabasan.kemdikbud.go.id/public/site/images/admin/cover-mabasan-01-01-01-01-01-01.png" alt="" width="85" height="120" /></sup></div> </td> <td> <div> </div> <br /> <p> </p> </td> <td> <p><strong>Mabasan</strong> is literary studies and researches journal focused on Indonesian, local, and international literatures. Every article in <strong>Mabasan</strong> has passed literature review and editing process. <strong>Mabasan</strong> is published by Balai Bahasa Provinsi NTB in June and December every year.</p> <div>ISSN: <a href="https://portal.issn.org/api/search?search[]=MUST=default=MABASAN&search_id=112818095">2085-9554</a> (<em>print</em>) <br />ISSN: <a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2621-2005" target="_blank" rel="noopener">2621-2005</a> (<em>online</em>)</div> <div> </div> <div>Berdasarkan SK Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi nomor 1429/E5.3/HM.01.01/2022, Mabasan terakreditasi Sinta 3, mulai volume 15 nomor 2 tahun 2021 s.d. volume 20 nomor 2 tahun 2026</div> </td> </tr> </tbody> </table> </div> <div><strong>Pengumuman</strong> <p>Template terbaru <em>Mabasan </em>telah diterbitkan per Desember 2025. </p> <p>Jurnal Mabasan menerima artikel untuk berbagai tema yang berhubungan dengan bahasa, sastra, dan pengajaran bahasa dan sastra. Tenggat waktu pengiriman artikel:</p> <ol> <li>tanggal 28 April 2026 untuk Volume 20 Nomor 1, Juni 2026</li> <li>tanggal 30 September 2026 untuk Volume 20 Nomor 2, Desember 2026</li> </ol> <p>Sebelum submit artikel, pastikan Bapak/Ibu sudah mengikuti panduan dan template penulisan artikel pada Jurnal Mabasan.</p> <p>Artikel dapat dikirimkan secara daring mengikuti sistem OJS dengan cara:</p> <ol> <li>mengunjungi laman Mabasan mabasan.kemdibud.go.id;</li> <li>membuat akun terlebih dahulu di menu<em> register;</em></li> <li>masuk (<em>login</em>) menggunakan akun dan kata sandi (<em>password)</em> yang sudah dibuat; dan</li> <li>mengisi data dengan benar.</li> </ol> <p>Disiarkan: 17 Desember 2025</p> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div>Balai Bahasa Nusa Tenggara Baraten-USMABASAN 2085-9554<ol><li>Author grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work’s authorship and initial publication in this journal.</li><li><span>Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal’s published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.</span></li><li><span>Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.</span></li><li><span>Every accepted manuscript should be accompanied by </span><span>"Copyright Transfer </span>Agreement"prior<span> to the article publication.</span></li></ol>Sampul Depan Mabasan 19 (2)
https://mabasan.kemendikdasmen.go.id/index.php/MABASAN/article/view/1177
Jurnal Mabasan
Copyright (c) 2025 Jurnal Mabasan
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-162025-12-16192ixxii10.62107/mab.v19i2.1177TRANSFORMASI CERITA RAKYAT MALIN KUNDANG DALAM IKLAN TELEVISI INDONESIA: KAJIAN ALIH WAHANA
https://mabasan.kemendikdasmen.go.id/index.php/MABASAN/article/view/992
<p>Di era globalisasi ini, berbagai budaya asing dapat dengan mudah masuk ke Indonesia. Diperlukan inovasi untuk mempertahankan tradisi dan budaya lokal, salah satunya adalah cerita rakyat. Salah satu upaya yang relevan adalah dengan menayangkan iklan produk yang mengangkat tema cerita rakyat Indonesia. Penelitian ini merupakan kajian alih wahana, yang bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana cerita rakyat Indonesia sebagai produk budaya berpindah medium dari bentuk naratif tradisional ke bentuk audio-visual dalam iklan televisi cat tembok dan mi instan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan pendekatan teori dekonstruksi Jacques Derrida untuk membedah perubahan struktur dan makna yang muncul dalam proses alih wahana tersebut. Data yang dianalisis berasal dari cerita rakyat “Malin Kundang” dan dua iklan televisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat yang diangkat dalam iklan mengalami transformasi makna, di mana karakter dan sifat tokoh telah mengalami perubahan, namun secara garis besar esensi cerita tetap dipertahankan. Plot iklan cat tembok Avian dan mi instan Sukses’s dikembangkan secara kreatif dan modern, sehingga berhasil memperkenalkan kembali kekayaan budaya lokal dalam bentuk yang lebih kontekstual dan komunikatif. Dengan demikian, penelitian ini menyoroti bagaimana proses alih wahana dan strategi dekonstruktif turut berperan dalam membentuk ulang narasi tradisional di media kontemporer.</p>M Ryan FirmansyahSuma Riella Rusdiarti
Copyright (c) 2025 Balai Bahasa Provinsi NTB
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-162025-12-1619221924410.62107/mab.v19i2.992PREFIKS NASAL {N-} PEMBENTUK VERBA BAHASA JAWA DALAM CRITA CEKAK PAMER BOJO KARYA ARDINI PANGASTUTI BN
https://mabasan.kemendikdasmen.go.id/index.php/MABASAN/article/view/1016
<p>Bahasa Jawa memiliki sistem morfologi pembentukan kata. Verba bahasa Jawa dapat dibentuk dengan prefiksasi {N-}. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk morfologis, makna, dan fungsi prefiks {N-} pembentuk verba bahasa Jawa dalam <em>crita cekak </em>“<em>Pamer Bojo</em>” karya Ardini Pangastuti BN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Metode analisis data yang digunakan adalah agih dan padan. Berdasarkan penelitian, ditemukan 31 verba dalam <em>crita cekak “Pamer Bojo”</em> karya Ardini Pangastuti BN yang dibentuk dengan prefiksasi {N-} pada bentuk dasarnya. Bentuk morfologis prefiks {N-} dalam <em>crita cekak “Pamer Bojo”</em> karya Ardini Pangastuti BN dapat dijelaskan terkait perubahan morfofonemik dan konstruksi prefiks {N-} pembentuk verba. Dalam penelitian, ditemukan prefiks {N-} yang direalisasikan dengan lima alomorf saat dilekatkan pada bentuk dasar, yaitu direalisasikan dengan /nge-/, /m-/, /n-/, /ng-/, dan /ny-/. Verba dapat dibentuk dengan prefiksasi {N-} pada bentuk dasar prakategorial, kata benda, kata kerja, dan kata sifat. Terdapat empat makna pembubuhan prefiks {N-}, yaitu melakukan tindakan atau perbuatan yang dinyatakan pada bentuk dasarnya, melakukan tindakan menggunakan yang dinyatakan pada bentuk dasarnya, melakukan perbuatan yang berhubungan atau berkaitan dengan yang tersebut pada bentuk dasarnya, dan melakukan tindakan membuat jadi yang tersebut pada bentuk dasarnya. Fungsi prefiksasi {N-} pembentuk verba adalah membentuk verba aktif transitif, semitransitif, dan intransitif. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan verba prefiksasi {N-} terdapat variasi morfofonemik, kategori bentuk dasar yang dilekati, makna yang dibentuk, dan fungsi prefiks {N-}.</p>Riris Purbosari
Copyright (c) 2025 Balai Bahasa Provinsi NTB
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-162025-12-1619224526810.62107/mab.v19i2.1016ANOMALI SEMANTIK DALAM BAHASA VERBAL PENDERITA SKIZOFRENIA
https://mabasan.kemendikdasmen.go.id/index.php/MABASAN/article/view/1030
<p>Anomali semantik merupakan salah satu ciri khas gangguan bahasa pada penderita skizofrenia dan dapat mencerminkan disorganisasi kognitif. Namun, kajian yang secara sistematis menyoroti anomali semantik pada tuturan penderita skizofrenia dalam konteks penutur bahasa Indonesia, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan jenis anomali semantik dalam bahasa verbal penderita skizofrenia. Data penelitian berasal dari video publik di <em>YouTube</em> Diman Khan TV dan Parti TV, ditranskripsikan secara verbatim, diseleksi, dan diklasifikasikan menurut jenis anomali semantik (<em>dissonance, zeugma, pleonasm, improbability</em>). Analisis dilakukan dengan mengaitkan bentuk bahasa dan maknanya, kemudian hasilnya divalidasi melalui pemeriksaan sejawat, sambil tetap menjaga privasi dan martabat subjek. Hasil penelitian menunjukkan adanya empat bentuk anomali semantik, yaitu: 1) <em>dissonance, </em>tampak melalui kalimat yang bertentangan secara makna dan logis, seperti <em>"</em>...<em>Gue aja tadi bangun pagi dari mati kemaren." ; </em>2) zeugma<em>, </em>terindikasi dalam pernyataan yang menghasilkan ketidakseimbangan makna, seperti <em>”Inih, lagi dibuat rumahnya sekalian kerajaan di balik daun sanah.</em><em>.”; </em>3) pleonasme<em>, </em>berupa penggunaan kata atau frasa secara berlebihan meskipun maknanya sudah jelas, seperti <em>“gue benci itu beli-beli itu kalung terus dipake kalungnya dipasangin ke leher beli lagi.”</em>; dan 4) <em>improbability, </em>tampak melalui penggunaan kalimat yang sangat tidak realistis atau mustahil, seperti “<em>Aku punya rumah sendiri, di Amerika ini. Itu rumahnya Presiden Amerika, Papahnya aku.”</em>. Meskipun komunikasi dasar masih mungkin, kualitas interaksi sangat tergantung pada dukungan lingkungan, menekankan peran konteks sosial dalam memahami gangguan linguistik ini.</p>Reno Novita SariLeni Syafyahya
Copyright (c) 2025 Balai Bahasa Provinsi NTB
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-162025-12-1619226928810.62107/mab.v19i2.1030STUDI BERBASIS KORPUS DIGITAL TERHADAP KESALAHAN EJAAN ARTIKEL TERINDEKS SINTA
https://mabasan.kemendikdasmen.go.id/index.php/MABASAN/article/view/1038
<p>Produktivitas riset di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami lonjakan yang signifikan, namun kualitas publikasi sering kali tidak sebanding dengan kuantitasnya. Kesalahan ejaan dan penggunaan bahasa yang tidak sesuai kaidah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi efektivitas komunikasi ilmiah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kesalahan ejaan dalam artikel-artikel jurnal terindeks SINTA 5 dan 6 menggunakan pendekatan korpus digital. Dengan memanfaatkan perangkat lunak AntConc, penelitian ini menganalisis 42 artikel dari 21 jurnal yang diperoleh dari laman resmi SINTA, difokuskan pada bidang “pendidikan bahasa”. Penelitian ini menggunakan desain <em>explanatory sequential</em> dengan pendekatan campuran, yang diawai dengan analisis kuantitatif melalui fitur <em>Word List, Cluster, KWIC, </em>dan <em>File View</em> untuk mengidentifikasi frekuensi dan pola ejaan, lalu dilanjutkan dengan analisis kualitatif untuk memahami konteks dan penyebabnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori kesalahan ejaan paling dominan ditemukan pada penulisan kata depan “di-” dan “ke-” dengan total 305 kesalahan. Selain itu, ditemukan kesalahan pada bentuk kata turunan sebanyak 14 dan unsur serapan sebanyak 2 kesalahan. Temuan ini menunjukkan perlunya perhatian lebih dari penulis terhadap kaidah bahasa untuk meningkatkan kualitas publikasi ilmiah.</p>Evi IryaniPratomo WidodoPangesti WiedartiTitik SudartinahAhmad Taufiq
Copyright (c) 2025 Balai Bahasa Provinsi NTB
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-162025-12-1619228930410.62107/mab.v19i2.1038PENGUASAAN KAIDAH BAHASA INDONESIA: KAJIAN PADA MAHASISWA JURUSAN TARI INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA
https://mabasan.kemendikdasmen.go.id/index.php/MABASAN/article/view/1048
<p>Penguasaan kaidah kebahasaan merupakan salah satu fondasi penting dalam menghasilkan karya tulis yang informatif. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengukur tingkat penguasaan kaidah kebahasaan mahasiswa Jurusan Tari Institut Seni Indonesia Surakarta, (2) mengidentifikasi aspek kebahasaan yang paling dikuasi dan paling kurang dikuasai, serta (3) menentukan kebutuhan pembelajaran untuk peningkatan kompetensi berbahasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, dengan data diperoleh melalui tes objektif sebanyak 25 soal berbasis Google Form. Aspek kebahasaan yang diuji meliputi penggunaan huruf kapital, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca. Adapun sampel penelitian berjumlah 100 orang mahasiswa jurusan tari tahun ajaran 2024/2025. Analisis data dilakukan dengan memberi skor 4 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah, lalu mengonversinya menjadi persentase penguasaan. Persentase tersebut diklasifikasikan berdasarkan kategori Nurgiyantoro (2010). Rata-rata per aspek kebahasaan juga dihitung untuk melihat aspek yang paling kuat dan lemah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata tertinggi terdapat pada aspek pemakaian tanda baca (76), diikuti penggunaan huruf kapital (72), dan penulisan kata (64). Mahasiswa masih mengalami kesulitan pada penggunaan tanda titik dua dan apostrof (aspek tanda baca), penulisan nama geografis (penulisan huruf kapital), dan penulisan bentuk terikat, gabungan kata, partikel, singkatan, akronim, dan bilangan (penulisan kata). Distribusi nilai menunjukkan bahwa 48% mahasiswa memiliki kemampuan kebahasaan pada kategori “baik” hingga “sangat baik”. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan materi teknis kebahasaan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.</p>Nurul Hidayah FitriyaniIfa Hanifa Rahman
Copyright (c) 2025 Balai Bahasa Provinsi NTB
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-162025-12-1619230532210.62107/mab.v19i2.1048SUMMARY WRITING REPRESENTING STUDENTS’ WRITING ABILITY: A DESCRIPTIVE STUDY
https://mabasan.kemendikdasmen.go.id/index.php/MABASAN/article/view/1054
<p>This descriptive quantitative study examines the summary writing performance of third-year English Education students and identifies the most and least effectively achieved aspects of summary writing in order to give insight for assessment design, curriculum decisions, and teacher feedback practices. Using purposive sampling to determine the participants, the research involved 20 students from a university in Pamekasan, Madura, who completed a summary writing task as the data collection method. The summaries were assessed using an analytical scoring rubric covering five aspects: length, accuracy, paraphrasing, focus, and convention. Findings reveal that students' overall performance falls into the "Good" category, with an average score of 77.75. Accuracy and paraphrasing were the strongest aspects, while length was the most challenging one. These findings suggest that although students demonstrate solid comprehension and rephrasing skills, they require further instruction in controlling summary length. This research emphasizes the importance of providing clear, structured instructions and targeted support to help students refine their summarization skills. The results offer pedagogical implications for enhancing summary writing instruction in EFL contexts.</p>Gema Diniah SetraMirjam AnugerahwatiNiamika El Khoiri
Copyright (c) 2025 Balai Bahasa Provinsi NTB
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-162025-12-1619232333810.62107/mab.v19i2.1054HETEROGLOSSIC ENGAGEMENT PATTERNS IN THE TIKTOK, INC. VERSUS GARLAND ORAL ARGUMENT TRANSCRIPT
https://mabasan.kemendikdasmen.go.id/index.php/MABASAN/article/view/1108
<p>The present study examines how U.S. Supreme Court participants, including judges and lawyers, manage these viewpoints in the TikTok, Inc. versus Garland oral argument transcript by using an engagement system that focuses on the heteroglossic subtype, where speakers acknowledge other perspectives to support or challenge them. The study employs a discourse analysis approach. The data were sourced from the oral argument transcript on the U.S Supreme Court official website. The study applies the The UAM Corpus Tool, a software developed at the Universidad Autónoma de Madrid, was used to manually annotate engagement markers in the dataset and categorise words, phrases, clauses, and sentences, examining heteroglossic engagement by analysing how speakers opened up space for other views or closed it down in arguments. The study found that both judges and lawyers frequently used strategies to limit opposing views. Judges often denied claims directly and weighed opposing arguments to demonstrate that they were unreasonable. While lawyers conceded minor points only to return to their main arguments, the expansions were also identified, which allowed the judges to entertain possibilities by using specific phrases to discuss ideas openly. Conversely, lawyers acknowledged the other side’s points before arguing against them.</p>Rio Nur RachmadNi Gusti Ayu Roselani
Copyright (c) 2025 Balai Bahasa Provinsi NTB
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-162025-12-1619233935610.62107/mab.v19i2.1108KONSEPTUALISASI METAFORA EMOSI DAN SIFAT: ANALISIS LINGUISTIK KOGNITIF TERHADAP IDIOM BAHASA SASAK
https://mabasan.kemendikdasmen.go.id/index.php/MABASAN/article/view/1110
<p>Penelitian ini menganalisis idiom-idiom dalam bahasa Sasak yang merefleksikan emosi dan sifat manusia melalui kerangka Teori Metafora Konseptual (CMT). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, data dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk kamus standar, korpus daring, dan konfirmasi dari penutur asli. Metode ini memungkinkan identifikasi dan klasifikasi metafora yang digunakan untuk mengonseptualisasikan pengalaman batin. Hasil analisis menunjukkan bahwa metafora emosi dan sifat dalam bahasa Sasak tidak hanya berfungsi sebagai ornamen linguistik, melainkan juga sebagai mekanisme kognitif fundamental. Teridentifikasi beberapa domain sumber yang sangat produktif, seperti hewan, benda padat, dimensi/ukuran, dan tindakan fisik. Masing-masing domain ini dipetakan secara sistematis ke domain target yang abstrak, yaitu emosi dan sifat/karakteristik manusia. Lebih lanjut, temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa pemilihan domain sumber mencerminkan pandangan dunia dan sistem nilai moral masyarakat Sasak. Sebagai contoh, idiom seperti <em>ate basong</em> ‘hati anjing’ dan <em>otak udang</em> ‘kepala udang’ secara konsisten menggunakan domain hewan untuk merepresentasikan sifat-sifat negatif seperti kejahatan dan kebodohan. Sebaliknya, domain benda padat seperti <em>ate waje</em> ‘hati baja’ digunakan untuk mengonseptualisasikan sifat positif seperti ketangguhan. Sementara itu, <em>panas ate</em> ‘panas hati’ memetakan sensasi fisik panas ke emosi amarah, yang merupakan pola universal dalam banyak bahasa. Dengan demikian, studi ini menegaskan peran krusial metafora sebagai alat kognitif dan budaya bagi penutur bahasa Sasak untuk memahami dan mengartikulasikan pengalaman batin yang kompleks. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi kajian linguistik kognitif, khususnya dalam konteks bahasa daerah di Indonesia, serta menekankan pentingnya pelestarian bahasa lokal sebagai cerminan kearifan budaya yang unik dan kaya.</p>Lukmanul Hakim
Copyright (c) 2025 Balai Bahasa Provinsi NTB
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-162025-12-1619235737410.62107/mab.v19i2.1110CONCEPTUAL SHIFTS AND EXISTENTIAL STRUGGLES IN ETGAR KERET'S SHORT STORY PINEAPPLE CRUSH
https://mabasan.kemendikdasmen.go.id/index.php/MABASAN/article/view/1134
<p>Cognitive metaphor theory is essential for understanding abstract concepts such as life, which is widely conceptualized as a journey within human experience. This metaphor—“life is a journey”—pervades diverse cultural and literary contexts. In Etgar Keret's short story “Pineapple Crush”, this traditional metaphor is deconstructed, resulting in conceptual shifts in the meaning of life. This study employs close reading and content analysis to discover and examine conceptual shifts in the meaning of life and to evaluate their influence on the narrative. The results indicate that life is conceptualized as an ugly low table in a living room, abandoned by its former inhabitant. Moreover, life is conceptualized as an infinite journey, contesting the conventional meaning of life. These multiple conceptualizations challenge the traditional metaphor of life and provoke an existential struggle that constitutes the narrative's underlying tension, propelling the plot forward.</p>Aliurridha AliurridhaElya Febriani
Copyright (c) 2025 Balai Bahasa Provinsi NTB
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-162025-12-1619237539210.62107/mab.v19i2.1134REPRESENTATIONS OF RESISTANCE AND COUNTER NARRATIVES IN THE FILM NO OTHER LAND: AN ANALYSIS OF EDWARD'S POSTCOLONIAL ORIENTALISM
https://mabasan.kemendikdasmen.go.id/index.php/MABASAN/article/view/1136
<p style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><span lang="EN-US">The Palestinian-Israeli conflict is a complex and protracted geopolitical issue, in which Israel's colonial practices against Palestine continue until today. The documentary film No Other Land directly records the destruction of Palestinian villages in Masafer Yatta as well as forms of resistance by the local community. The main issue of this research is the need to reveal how the film No Other Land presents resistance and counter-narratives to the dominance of Orientalist representations. This research aims to show that No Other Land is not only a documentation of reality, but also a medium that affirms the agency, dignity, and identity of the Palestinian people. This study uses Edward Said's framework of Orientalism to analyze how the film depicts power relations, colonial practices, and counter-narratives born out of Palestinian resistance. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through observation of scenes, dialogues, and visuals in the film, then categorized into verbal, symbolic, and historical forms of resistance. The study's results identified 21 instances of resistance, including 10 verbal, 8 symbolic, and 3 historical, as well as 7 instances of counter-narratives that serve to deconstruct the Orientalist discourse portraying Palestine as weak and passive. These findings show that No Other Land is not merely a documentation of suffering, but also a political medium that reclaims the representation of Palestine in the eyes of the world. Thus, documentary films can be understood as a space for cultural resistance that affirms the identity, dignity, and rights of colonized peoples.</span></p>Ibrahim AlfadhilTamim Mulloh
Copyright (c) 2025 Balai Bahasa Provinsi NTB
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-162025-12-1619239341010.62107/mab.v19i2.1136EKSOTOPI TUMBUH-TUMBUHAN DALAM DONGENG NUSANTARA BERTUTUR HARIAN KOMPAS: PERSPEKTIF BOTANI SASTRA
https://mabasan.kemendikdasmen.go.id/index.php/MABASAN/article/view/1162
<p>Tulisan ini membahas pertemuan ilmu humaniora dan eksakta yang melahirkan konsep botani sastra. Botani sastra selanjutnya digunakan untuk menganalisis penggambaran <em>eksotopi </em>vegetasi yang terlingkup pada unsur-unsur tumbuhan dalam dongeng-dongeng Nusantara Bertutur <em>Harian Kompas</em>. Teknik pengumpulan data menggunakan cara hermeneutik yakni teks ditafsirkan secara terbuka, lentur, dan bebas menurut konteks tumbuhan. Temuan pada penelitian ini menunjukkan adanya ragam vegetasi dalam dongeng-dongeng Nusantara Bertutur berupa unsur-unsur tumbuhan seperti daun, pohon, dan bunga yang dinarasikan sebagai sarana kontemplasi. Temuan selanjutnya menandaskan <em>eksotopi</em> tentang tumbuh-tumbuhan itu penting, tetapi sering tidak tampak ke permukaan. Mulai dari unsur-unsur tumbuhan dedaunan yang bertransformasi sebagai vegetasi herba, hasil industri kreatif, dan bahan pembuatan permainan tradisional yang dirasa mulai tergerus zaman. Ada unsur pepohonan berperan sebagai alat konservasi lingkungan hidup, resistansi, dan pelindung vegetasi lain di sekitarnya. Terakhir, ada bunga-bunga difungsikan sebagai pembuatan mahkota, pembawa pluralitas pesan, dan dijadikan gaya melankolis dalam narasi dongeng.</p>Saharul HariyonoAan Octoviar
Copyright (c) 2025 Balai Bahasa Provinsi NTB
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-162025-12-1619241143210.62107/mab.v19i2.1162